Disusun oleh :
Guntur
Siswono (1B116199)
I
Dewa Gde S (1B116194)
Khanif
Fatoni (1B116195)
Daniel (1B116216)
Johan Kalvin (1B116206)
FAKULTAS ILMU KOMPUTER SISTEM INFORMASI 2017
BAB I
PENDAHULUAN
Ilmu budaya dasar adalah ilmu yang
mempelajari seluk beluk mengenai konsep yang dikembangkan untuk mengkaji
masalah manusia dan kebudayaan. Ilmu budaya dasar dikembangkan di Indonesia
sebagai pengganti basic humanities yaitu nilai - nilai manusia sebagai homo
humanus atau manusia berbudaya.
Kebudayaan tidak hanya dari sebuah
suku atau tradisi, tetapi bisa juga kita dapatkan dari sebuah sejarah yang ada
di Indonesia. Salah satunya ikon sejarah Jakarta yaitu Kota Tua Jakarta.
BAB II
PEMBAHASAN
A.PEMBAHASAN
Sejarah perkembangan kota tua
dataran rendah tempat bertumpunya kota Jakarta sekarang ini menurut taksiran
telah berusia 5000 tahun. Taksiran itu berdasarkan hasil penelitian
geomorfologis atau ilmu lapisan bumi.
Jayakarta 1618:
Peta ini merupakan rekonstruksi perkiraan
keadaan pada tahun 1618 (Ijzerman, 1917). Di dalam garis-garis putus pada tepi
kanan sungai (A) nantinya akan terletak bagian kota Batavia lama, sedangkan di
tepi kiri (B) adalah letak loji Inggris.
Jayakarta 1619:
Jayakarta 1619:
Pada masa ini benteng jacatra semakin
meluas, sehingga luasnya tiga kali lipat luas semula. Namanya pun menjadi
kasteel batavia namun bentuk kasteel baru itu tidak banyak berubah dengan
benteng kuno yaitu persegi dengan bastion – bastion yang menonjol, tembok
diantara bastion itu courtine atau gordijn. Itulah sebabnya kita mengenal Kota
Batavia kuno sebagai ‘Kota Inten’.
Tembok di antara bastion itu
disebut Courtine atau Gordijn. Di tengah-tengah gordijn selatan dibuat pintu
landpoort (pintu gerbang darat) dan di sebelah utara dibuat waterpoort
(pintu-gerbang laut). Di sebelah Kasteel kemudian dibuat grachten atau
parit-parit yang sesuai keadaan kota Amsterdam.
Batavia 1622 :
Di tahun ini di sebelah selatan
kastil sudah panel melintang. Selain tiga buah kanal tegak lurus di atas kali besar
(ciliwung) di sepanjang sisi timur, parit (kanal) ini dihubungkan dengan parit
singa betina oleh sebuah parit yaitu parit harimau. Di bagian selatan dekat
belokan ciliwung terdapat plaisan huis dan ke timur terdapat pos penjagaan
brasser.
Batavia 1627 :
Kota dibangun sesuai dengan
kebiasaan belanda, dengan jalan-jalan dan parit-parit. Parit harimau membujur
panjang dari utara ke selatan dan dipotong berturut-turut (arah selatan) oleh
parit – parit yang menghubungkan parit harimau (sekarang bernama Jalan Pos di
Jakarta Kota) dengan Kali Besar. Dalam gambar, terdapat proyeksi sebuah parit
yang sebagian telah digali. Parit tersebut dimaksudkan sebagai awal perluasan
kota ke sebelah Barat atau sebelah kiri Kali Besar.
Batavia 1632 :
Tembok Kota belum sepenuhnya
selesai dan dipisahkan oleh pagar bambu. Pembangunan kastil batavia yang kedua
berada di sebelah kiri galangan, di jalan Bank Sisi Timur yang langsung menuju
kawasan Kali Besar.
Batavia 1635 :
Dalam peta ini nampak Batavia
lama mulai melebar ke sebelah barat Ciliwung, di mana tadinya masih berupa
rawa-rawa.
Kali-kali besar yang ada di Batavia
pada masa sebelumnya tidak lagi berliku-liku tetapi lebih terlihat terurus dan
lurus disempurnakan menjadi parit yang menerobos kota. Pembangunan parit ini
merupakan cita-cita orang-orang Belanda untuk membangun Batavia persis seperti
kota Belanda.Kota-kota lama di sebelah timur makin melebar dan banyaknya
perkebunan-perkebunan.
Batavia 1650 :
Bagian timur kota telah selesai
dengan pembangunannya. Bagian selatan Voorstad juga telah mulai dibangun.
Kecuali dengan semakin bertambahnya bangunan tidak banyak perubahan yang
terjadi pada wajah peta-peta dasar pada waktu itu. Di dalam sebuah peta dari
tahun 1681 (Breuning, 1954: 34) terlihat bahwa di luar tanggul-tanggul kota
dibuat kebun-kebun. Selain itu, pada peta ini juga nampak dengan jelas, bahwa
garis pantai telah menjorok lebih ke utara lagi karena endapan lumpur dari
Ciliwung.
Batavia 1672 :
Di sebelah selatan jalan dan Kanal
Ancol, terdapat Kanal Sontar dan Jalan Gelederland yang tampaknya juga
menghubungkan pusat kota dengan kawasan di luar kota bagian timur. Menurut
laporan Valentijn dan Stavorinus, ada lima ruas jalan dari dan ke luar kota.
Pertama, jalan yang ke timur menuju Ancol menyusuri Cilincing, Bekasi dan
Tanjung Pura. Pada dua sisi jalan tersebut terdapat kabun-kebun dan di
sekitarnya terdapat rumah penginapan dan rumah pertunjukkan.
Kedua, Jalan Jacarta (Jacatra Weg)
menghubungkan pusat kota dengan pos penjagaan Jakarta. Ketiga, jalan yang menuju
ke selatan melalui Molenvliet, atau Kanal Bingham menuju pos Rijwik, Noordwijk,
Meester Cornelis, Cililitan, Tanjung, Cimanggis, dan terus sampai ke Bogor.
Keempat, jalan yang ke arah barat. Simplicitas, Konjere (Cinere) menuju ke
Bogor. Kelima, jalan yang menuju ke barat melalui Moxervaart melewati pos
Vijfhoek, pos Anglke, terus ke Tangerang dan akhirnya sampai ke Banten.
Batavia 1770 :
Peta Van der Parra, dibuat atas
perintah Gubernur Jendral Petrus Albertus Van der Parra dan dimuat dalam buku standar
tentang kota lama Batavia dari Dr. F. De Haan. Selama pemerintahan Baron van
Imhoff, saluran besar dari Buitenzorg (Bogor) disalurkan ke kota melalui
Salemba dan akhirnya mengalir ke Kanal Sonter (kanal yang digali oleh Pieter
Antonijsz Overwater), kemudian membelok ke timur sampai ke Kali Ancol, terus ke
laut.
Perkembangan kota pada abad ke 18 :
Dalam sebuah buku yang terbit pada
tahun 1799 di Amsterdam, terdapat pula peta situasi yang hampir sama. Tahun
penunjuknya ialah tahun 1760 dan keterangan peta ditulis dalam bahasa Prancis.
Peta itu lebih sempurna pembuatannya. Dalam peta tersebut benteng Jacatra lebih
dekat letaknya dengan Sungai Ciliwung.
Weltevreden 1780 :
Semula wilayah ini merupakan tanah
milik Anthony Pavijoen. Pada tahun 1648 masih berupa daerah hutan rawa dan
padang rumput. Wilayah ini kemudian disewakan kepada orang Cina untuk ditanami
tebu dan kebun sayuran. Setelah itu baru dipakai sebagai persawahan. Tahun 1697
didirikan sebuah rumah oleh pemilik baru, Cornelis Chastelein. Selain rumah
juga terdapat kincir penggilingan tebu. Diduga, nama “Weltevreden” diberikan
oleh Chastelein, yang kemudian memperluas tanah miliknya. Tahun 1733, tanah ini
dijual kepada Justinus Vinck dengan harga 39.000 ringgit. Tahun 1735, keluar ijin
untuk membangun pasar-pasar, satu pasar di Tanah Abang, satu lagi di
Weltevreden.
Sepeninggal J. Vinck, maka tanah
itu menjadi milik Gubernur Jendral Jacob Mossel yang membelinya dengan harga
28.000 ringgit. Pemilik baru ini menggali sebuah parit yang memanjang sejajar
dengan de Grote Zuiderweg, Kali Lio. Di sebelah selatan Kali Lio, terdapat
gedung besar yang dikenal sebagai het Landhuis Weltevreden. Jalan lurus menuju
gedung itu sekarang dikenal sebagai gang kenangan.
Rencana kota batavia 1858 :
“Rancangan Batavia dan Sekitarnya”.
Terlihat bagian kota Batavia dan Weltevreden masih dikelilingi rawa-rawa,
sawah, dan hutan-hutan kecil.
B.LANDASAN TEORI
Apa yang terpikirkan oleh kita
warga Jakarta tentang Kota Tua? Jauh, indah tapi tak terawat, atau sebatas kota
kenangan? Jujur saja, memang menyedihkan mengetahui denyut asli kota Jakarta
itu kehilangan kilaunya. Ia sedikit terlupakan dengan maraknya pusat
perbelanjaan mewah dan majunya pembangunan di bilangan Jakarta yang lain. Apa
saja yang terjadi di daerah bersejarah itu dan apa yang terlewatkan oleh kita
para warganya selama ini?
Setiap negara memiliki satu area
tertentu yang dianggap sebagai daerah “tertua” dan punya karakteristik tertentu
yang membedakannya dengan area lain. Seperti layaknya Kota Tua di Jakarta.
Tapi, tahukah kamu apa yang membuat Kota Tua di Jakarta istimewa dibanding area
old town negara lain? Keistimewaan itu terletak pada fungsinya yang lengkap
sebagai pusat administratif karena masih berdiri dan berjalan fungsi
badan-badan pemerintahan di sana, fungsi perdagangan dengan adanya Mangga Dua
dan pusat perbelanjaan lainnya, serta daerah hunian dengan masih banyaknya
warga Jakarta yang tinggal di sana.
Kelengkapan fungsi yang semestinya
menjadi nilai daya tarik sendiri, ternyata nggak membantu mendongkrak
kelestarian Kota Tua sebagai icon khusus ketika turis domestik atau mancanegara
mengunjungi Jakarta. Budi Lim, pakar arsitektur, yang sudah mulai aktif
berpartisipasti dalam peremajaan Kota Tua sejak masa pemerintahan Soerjadi Soedirdja,
mantan Gubernur DKI Jakarta 1992-1997, malah mengatakan bahwa jika proses
peremajaan Kota Tua berjalan sesuai rencana akan menjadi “Princess of The
East”, ungkapan menyanjung untuk pemandangan Kota Tua yang dihiasi oleh
gedung-gedung berdesain klasik dan art deco.
C.METODOLOGI PENELITIAN
Permasalahan yang akan dihadapi
pada kota tua adalah:
Apa kontribusi Kota Tua untuk
kebudayaan dan sejarah di jakarta?
Gimana prospek(kedepannya) kota tua
sebagai tempat wisata?
Apa tindakan pemerintah dan
masyarakat lakukan pada kota tua supaya berguna?
Dengan mendapatkan jawaban diatas
permasalahan tersebut, dapat ditarik kesimpulan akan respon masyarakat
dan pemerintah terhadap kota tua: apakah melestarikan kebudayaan pada
zaman dahulu dengan memanfaatkan keindahan gedung-gedung yang bernilai klasik
menjadi wisata ataukah dibiarkan begitu saja dengan hanya lalu-lalang
melewatinya.
Alasan orang malas ke Kota Tua,
biasanya karena alasan kebersihan. Tanpa harus menyalahkan Pemerintahan Daerah
Jakarta yang kurang proaktif bergerak, Winda Siregar, salah satu aktivis di
organisasi nirlaba khusus proyek revitalisasi Kota Tua, Jakarta Old Town
Kotaku, mengaku bahwa memang dibutuhkan inisiatif lalu bergerak mencari sponsor
ketika ingin melakukan sesuatu untuk Kota Tua, salah satu contohnya adalah saat
akan melakukan pembersihan Kali Besar.
“Namun, bila menginginkan kali
tersebut bisa jernih layaknya kolam renang, tentu membutuhkan waktu dan proses
pembersihan harus dilakukan dari hulu hingga hilir”, katanya berdasarkan
pengalamannya turun langsung dalam program pembersihan kali. “Salah satu
produsen alat telekomunikasi dalam program CSR (Corporate Social
Responsibility) juga ikut berpartisipasi membersihkan Kota Tua yaitu dengan
menyediakan tempat sampah di titik-titik yang banyak dilewati orang, namun
sayangnya tempat sampah itu malah dicuri dan satu per satu menghilang,”
ujarnya. Melihat dari kejadian sederhana di atas itu saja, terlihat bahwa
kesadaran masyarakat untuk menjaga Kota Tua masih sangat minim. “Tak bisa hanya
menunjuk Kota Tua itu tanggung jawab pemerintah daerah, Non-Governmental
Organization (NGO), atau stakeholder swasta lainnya. Semua pihak yang ingin
menikmati Kota Tua adalah pihak yang harus turut aktif menjaga dan melestarikan
Kota Tua” kata Winda.
Menuntut kepedulian untuk
melestarikan sebuah daerah sebesar dan sekrusial Kota Tua memang tak mudah.
Namun, ada sebuah NGO yang peduli akan kelestarian Kota Tua bertitel Jakarta
Old Town Kotaku (JOK) yang dinisiasi oleh tujuh orang yang pakar di bidangnya
masing-masing, yaitu Budi Lim pakar arsitektur, Pinky Pangestu urban planner,
Ella Ubaidi pemerhati komersil, Farid Harianto yang memegang segi perekonomian,
Shanti Soedarpo yang aktif di bidang penguasaan informasi teknologi komputer,
Miranda Goeltom sebagai penanggung jawab pengembangan kegiatan seni dan budaya,
serta Gerrick Wiryadinata sebagai perwakilan Tionghoa.
Mereka berinisiatif bergerak dan
berbuat sesuatu untuk Kota Tua karena merasakan cantiknya Kota Tua sebelum
menjadi seperti sekarang dan memanfaatkan networking mereka untuk melestarikan
daerah yang dianggap sebagai “jantung” kota Jakarta tersebut. “Namun,
koordinasi gerakan ini tentu bukan sesuatu yang instan, sehingga yang akan
merasakan hasil perubahannya adalah anak cucu kita. Setiap langkah yang dibuat
harus dikoordinasikan oleh stakeholder yang memilki gedung di kawasan tersebut,
pemerintah daerah, dan masih banyak pihak lainnya. Yang pasti gerakan nirlaba
ini ingin mempercantik Kota Tua Jakarta, namun bukan dengan membangun mall atau
sekadar menjadikan Kota Tua seperti taman wisata, karena itu bukanlah rencana
jangka panjang untuk melestarikan suatu kota yang sarat budaya,” jelas Winda.
Di luar dari adanya pemerintah
daerah atau NGO yang peduli terhadap Kota Tua, semua orang, tanpa harus
menjabat posisi, bisa melakukan sesuatu untuk lebih mencintai lalu tergerak
melestarikan Kota Tua. Contoh termudahnya adalah dengan menjadikan area Kota
bukan hanya sebagai area melintas, tetapi sebagai tujuan. Lebih mengenal budaya
Indonesia dengan mengunjungi museum yang ada di sana, menambah pengalaman
kuliner dari jajanan yang ada, atau sekadar berhenti sebentar di Menara
Syahbandar dan menyaksikan sendiri bagaimana bisa ia condong miring layaknya
Menara Pisa di Italia.
Sederet kegiatan yang dirancang
untuk dilakukan di Kota Tua itu, dimaksudkan agar Kota Tua menjadi destinasi
menarik, bukan hanya area pemendek rute perjalanan saat kita menuju area
Jakarta Utara atau Barat. “Ini hanya sebagian kecil dari apa yang bisa saya
lakukan untuk Kota Tua. Bila Kota Tua dipercantik dan tak dibiarkan ‘redup’,
kita bisa melakukan apa saja di Kota Tua, mulai dari pusat bisnis hingga tujuan
hiburan,” ujar Winda optimis.
Tanggapan Gubernur Jakarta
Gubernur DKI Jakarta ambisius ingin
menjadikan Kota Tua sebagai ikon dan imej Jakarta ke pasar pariwisata dunia.
Maka itu sejak membentuk konsorsium Kota Tua, pihaknya sudah mulai
merevitalisasi 8 hektar lahan Kota Tua. Seluruh wilayah yang akan diperbaiki
sebanyak 280 hektar."Dalam enam bulan, 8 hektar yang ada di pusatnya
dulu," kata Jokowi di Stadion Veledrome, Rawamangun, Jakarta Timur, Kamis
(24/10).Dia menyebutkan revitalisasi ini termasuk perbaikan gedung tua dan
perbaikan infrastruktur jalan. Semisal memperindah trotoar, jalan, taman,
penerangan jalan, dan penataan pedagang kaki lima (PKL)."Setelah
gedung-gedungnya direkonstruksi, dicat, yang paling penting juga mengisinya
dengan kegiatan, baik seni budaya atau yang lain," jelas dia.
Dengan keadaan Kota Tua yang bagus,
maka aktivitas warga Jakarta akan terbiasa dengan wisata ruang terbuka. Sama
seperti saat Jokowi mengimbau warga Jakarta untuk mengisi kegiatan bermanfaat
di Taman."Yang paling penting mengisi aktivitas kegiatan yang di sana,
baik di museum, baik dengan seni budaya, baik dengan kegiatan-kegiatan yang
lain. Karena apa pun sebuah kota akan itu dilihat nantinya kalau punya kekuatan
yang unik. Itu yang akan menjadi sebuah brand yang unik akan menjadi sebuah
brand kota, itu akan menjadi kekuatan dan potensi yang unik. Jakarta adalah
Kota Tua," tutup Jokowi.
Untuk memenuhi tugas matakuliah
ilmu budaya dasar, kami berdiskusi manakah yang tepat untuk menjadikan objek
penelitian kami mengenai budaya.
Pada awalnya salah satu dari kami
berpendapat berkunjung ke bandung untuk meneliti tentang budaya suling, akan
tetapi ada yang kurang setuju karena lokasinya sangat jauh. Dan akhirnya salah
satu dari kami berpendapat yang terdekat dan sesuai budaya jakarta yaitu kota
tua. Sepanjang diperjalanan kami berdiskusi kembali, apa yang harus kami
meneliti yang ada di kota tua yang berhubungan budaya,awalnya kami berinisiatif
ketempat klenteng yang dekat dengan gedung-gedung kota tua tetapi setelah kami
sampai ke kota tua, kami berubah haluan ke sekeliling halaman gedung-gedung kota
tua ramai dengan macam pedagang kaki lima (PKL), makanan khas jakarta, serta
hiburan lainnya seperti boneka ondel-ondel dan objek manusia yang berpakai
tokoh perjuangan kemerdekaan dan ke tempat museum seni rupa dan keramik.
D. RAGAM BUDAYA
DI KOTA TUA
Gambar : Museum Fatahilah
Gambar : Saat di depan Museum
Fatahilah
I.Museum Fatahilah
Museum Fatahillah yang juga dikenal
sebagai Museum Sejarah Jakarta atau Museum Batavia adalah sebuah museum yang
terletak di Jalan Taman Fatahillah No. 2, Jakarta Barat
dengan luas lebih dari 1.300 meter persegi.
Gedung ini dulu adalah sebuah Balai
Kota (bahasa Belanda: Stadhuis) yang dibangun pada
tahun 1707-1710 atas perintah Gubernur Jendral Johan van
Hoorn. Bangunan itu menyerupai Istana Dam di Amsterdam,
terdiri atas bangunan utama dengan dua sayap di bagian timur dan barat serta
bangunan sanding yang digunakan sebagai kantor, ruang pengadilan, dan
ruang-ruang bawah tanah yang dipakai sebagai penjara.. Pada tanggal 30 Maret
1974, gedung ini kemudian
diresmikan sebagai Museum Fatahillah.
Koleksi di dalam Museum Fatahilah
Objek-objek yang dapat ditemui di
museum ini antara lain perjalanan sejarah Jakarta, replika peninggalan masa Tarumanegara
dan Pajajaran,
hasil penggalian arkeologi di Jakarta, mebel antik mulai dari
abad ke-17 sampai 19, yang merupakan perpaduan dari gaya Eropa, Republik Rakyat Cina, dan Indonesia. Juga
ada keramik,
gerabah,
dan batu prasasti.
Koleksi-koleksi ini terdapat di berbagai ruang, seperti Ruang Prasejarah
Jakarta, Ruang Tarumanegara, Ruang Jayakarta, Ruang Fatahillah, Ruang Sultan
Agung, dan Ruang MH Thamrin.
Terdapat juga berbagai koleksi
tentang kebudayaan Betawi,
numismatik,
dan becak.
Bahkan kini juga diletakkan patung Dewa Hermes (menurut
mitologi Yunani,
merupakan dewa keberuntungan dan perlindungan bagi kaum pedagang) yang tadinya
terletak di perempatan Harmoni dan meriam Si Jagur yang
dianggap mempunyai kekuatan magis. Selain itu, di Museum Fatahillah juga
terdapat bekas penjara
bawah tanah yang dulu sempat digunakan pada zaman penjajahan Belanda.
Gambar : Penyewaan
sepeda ontel
Salah satu cara menikmati wisata di
Kota Tua salah satunya bisa dengan menyewa sepeda ontel. Harga penyewaannya pun
tergolong murah, seharga Rp. 20.000,- per jam. Jadi, para wisatawan dapat
menikmati keindahan Kota Tua dengan berkeliling santai menggunakan sepeda
klasik ini.
Gambar :
Macam-
macam Profesi di Kota Tua dan Jasa seni pembuatan tato temporary
Museum
Seni Rupa dan Keramik
Museum Seni Rupa dan Keramik
merupakan salah satu museum yang menempati bangunan bersejarah di kawasan kota
tua jakarta. Museum yang di resmikan pada tahun 1870 ini awalnya dipergunakan
sebagai lembaga peradilan tinggi belanda. Kemudian pada masa kedudukan jepang
dan perjuangan kemerdekaan indonesia dijadikan sebagai asrama militer.
Pada taun 1968 s/d 1975 bagunan ini
di gunakan sebagai kantor dinas museum dan sejarah DKI Jakarta, kemudian pada
tanggal 20 agustus 1976 diresmikan sebagai balai seni rupa oleh presiden
suharto. Pada sayap kiri kanan bagian depan bagunan digunakan sebagai museum
keramik yang diresmikan oleh gubernur ali sadikin pada tanggal 07 juni 1977
kemudian pada awal tahun 1990 balai seni rupa dan museum keramik di gabung
menjadi museum seni rupa dan keramik.
Ondel-ondel
Ondel – ondel adalah bentuk
pertunjukan rakyat Betawi
yang sering ditampilkan dalam pesta-pesta rakyat. Nampaknya ondel-ondel
memerankan leluhur atau nenek moyang yang senantiasa menjaga anak cucunya atau
penduduk suatu desa.
Ondel-ondel yang berupa boneka besar
itu tingginya sekitar 2,5 meter dengan garis tengah ± 80 cm, dibuat dari
anyaman bambu
yang disiapkan begitu rupa sehingga mudah dipikul dari dalamnya. Bagian wajah
berupa topeng
atau kedok, dengan rambut kepala dibuat dari ijuk. Wajah ondel-ondel laki-laki
biasanya dicat dengan warna merah, sedangkan yang perempuan warna putih. Bentuk pertunjukan
ini banyak persamaannya dengan yang ada di beberapa daerah lain.
Di Pasundan
dikenal dengan sebutan Badawang, di Jawa Tengah disebut Barongan Buncis, sedangkan
di Bali
lebih dikenal dengan nama Barong Landung. Menurut
perkiraan jenis pertunjukan itu sudah ada sejak sebelum tersebarnya agama Islam di Pulau Jawa.
Semula ondel-ondel berfungsi
sebagai penolak bala atau gangguan roh halus yang gentayangan. Dewasa ini
ondel-ondel biasanya digunakan untuk menambah semarak pesta- pesta rakyat atau
untuk penyambutan tamu terhormat, misalnya pada peresmian gedung yang baru
selesai dibangun. Betapapun derasnya arus modernisasi, ondel-ondel masih
bertahan dan menjadi penghias wajah kota metropolitan Jakarta.
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Kota Tua adalah salah satu peninggalan sejarah Belanda yang letaknya di Jakarta
Pusat dan kini menjadi tempat wisata sejarah baik dari segi bangunannya maupun
kesenian dan kulinernya, sehingga Kota Tua menjadi sarana untuk menarik minat
wisatawan baik lokal maupun manca negara.
DAFTAR PUSTAKA

Tidak ada komentar:
Posting Komentar